Raih Kebahagiaan Tanpa Curang, Pesan KH Masbuhin Faqih

Pengasuh Pesantren Manbaus Sholihin Suci Gresik KH Masbuhin Faqih mengatakan, dalam kehidupan ini hanya satu yang kita cari yaitu kebahagiaan, baik kebahagiaan di dunia juga kebahagiaan di akhirat.
"Untuk mencapai kebahagiaan itu, setiap orang berlomba-lomba untuk mencariknya. Tidak usah dengan cara curang," tuturnya.
Kiai Masbuchin Faqih, yang santri-santri berkesempatan menempuh jenjang pendidikan di Yaman dan Timur Tengah umummnya, berpesan dalam tausiyahnya berikut.
Soal kebagiaan dunia dan akhir, penting untuk diraih. Hal ini sebagaimana doa yang kita panjatkan setiap selesai shalat yang berbunyi :
رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَة وَ فِي الأَخِرَةِ حَسَنَة وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Wahai Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan di akhirat, dan jagalah aku dari api neraka”.
Karena itulah setiap orang pasti berlomba-lomba untuk mencapai kebahagiaan ini, entah itu dengan cara yang kotor atau cara yang baik.
Sebenarnya sangat mudah untuk mencapai kebahagiaan. Untuk itulah kita tidak usah mencarinya dengan cara yang curang. Apalagi sampai menghalalkan segala cara. Orang yang berbahagia adalah orang yang hatinya tenang, tidak gelisah dan selalu ceria di mana saja, selalu menampakkan wajah riang kepada siapapun, seakan tidak mempunyai beban hidup sedikit pun.
Sebaliknya, bila hati kita selalu murung dan selalu gelisah, menampakkan wajah yang kurang ceria, maka itu pertanda bahwa kita adalah bukan orang yang bahagia. Mengapa? karena kita selalu diburu oleh beban yang tiada henti mengejar kita, hati kita menjadi tidak tenang.
Sekarang perlu kita pertanyakan bahwa kenapa orang-orang yang tidak bahagia selalu gelisah dan selalu murung serta tidak memiliki semangat dalam hidup? Ada beberapa jawaban untuk itu. Salah satunya adalah kurang rasa tanggung jawab kita terhadap semua tugas yang kita miliki.
Tugas yang harus diselesaikan dalam waktu dekat Menjadi molor dikarenakan kurangnya rasa tanggung jawabnya.
Dengan memiliki kurangnya rasa tanggung jawab menyebabkan pekerjaan menumpuk sehingga kita semakin merasa terdakwa oleh tugas-tugas yang belum terselesaikan.
Semakin menumpuk pekerjaan kita semakin merasa terburu oleh tugas di setiap saat.
Bagaimana mungkin kita bisa merasakan kebahagiaan kalau setiap saat selalu dikejar-kejar oleh tugas.
Tanggung jawab merupakan pekerjaan yang berat. Hal ini tidak mudah kita dapatkan, perlu waktu yang cukup lama untuk menjadi orang yang bertanggung jawab. Untuk itu, kita perlu menanamkan secara kuat sejak dini rasa tanggung jawab dalam hati. Yang harus dibangun terlebih dahulu adalah sikap tegas dalam diri kita.
Imam Ghazali dalam kitabnya Mizan al-Amal menyebutkan, bahwa kebahagiaan dapat diraih seseorang bila ia istiqamah terhadap tugas-tugas yang diembannya. Dalam setiap langkahnya selalu menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan. Ia sangat anti terhadap sikap plin-plan alias tidak istiqamah. Sikap tidak istiqamah hanya dimiliki oleh orang yang kualitas hidupnya rendah meski sebenarnya ia adalah orang yang memiliki intelektual yang tinggi.
Bagaimana tidak bahagia kalau kita selalu dapat melaksanakan tugas dengan tepat waktu. Karena kita terpuaskan dengan hasil jerih payah. Orang Muslim misalnya, ia akan merasa bahagia bila ia dapat menunaikan shalat lima waktu tepat pada waktunya. Begitu juga guru, ia juga akan merasakan kebahagiaan yang hakiki bila ia mampu menyelesaikan tugas keakademikannya dengan baik.
Mengapa dia bahagia?
Pertama, karena ia telah terbebas dari tugas yang ia miliki, juga berarti hilang satu beban hidupnya.
Kedua, ia merasa dengan melaksanakan tugas. Berarti ia layak berharap untuk mendapatkan pahala setelah melakukan tugas itu sebagai imbalannya.
Saat ini banyak orang yang tidak bahagia meski pada sisi luarnya bergelimang jabatan dan kekuasaan. Ciri-cirinya adalah ia selalu merasa iri dengan tetangga atau kerabatnya yang mendapatkan kebahagiaan lebih.
Hal itu sudah marak di hadapan kita, apa sebabnya ia merasa gelisah? Orang yang bertanggung jawab terhadap diri dan tetangganya adalah orang yang selalu konsisten dalam kenyataan. Ketika kenyataan yang ia kehendaki tidak sesuai Apa yang ia harapkan. Maka, dengan serta merta ia akan menyalahkan keadaan.
Kita masih ingat dengan apa yang diteladankan oleh Rasulullah SAW di dalam haditsnya bahwa kebahagiaan yang kita cari bukanlah datang dari harta atau jabatan kita. Namun, ia datang dari jiwa kita yang tenang, jiwa kita yang selalu merasa legawa terhadap segala keadaan yang tidak kita terima.
Kebahagiaan ini hanya dimiliki oleh orang yang tidak merasa gelisah karena merasakan kedamaian di setiap nafasnya. Begitu juga dengan pengurus organisasi.
Bila ingin mendapatkan kebahagiaan, maka kita harus bertanggung jawab terhadap segala tugas yang kita miliki, tidak peduli sekecil apapun tugas itu.
Belajar mengarungi kehidupan berawal dari organisasi yang kita jalani.
*) Dipetik dari situs Pesantren Mambaus Sholihin, Suci, Gresik.
Advertisement