Polri Tak Anti Kritik tapi Jangan dengan Kebencian dan Dihina
Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBPP Polri) mempersilakan masyarakat mengkritisi Polri demi kebaikan institusi Polri ke depan. Tetapi dalam menyampaikan kritik itu jangan disertai dengan penghinaan dan kebencian.
Hal itu disampaikan Ketua Umum KBPP Polri Evita Nursanty, menanggapi berbagai umpatan yang disampaikan golongan masyarakat terhadap Kapolri dan institusi Polri dalam sejumlah video yang beredar di media sosial.
“Siapa pun boleh bicara dan berpendapat, silakan disampaikan kritik, itu bagian dari demokrasi. Tapi jangan terkesan menghina, mencemarkan nama baik, merendahkan martabat orang lain dengan penuh kebencian apalagi kalau sampai dengan tuduhan-tuduhan yang belum tentu benar. Saya minta tolong jangan begitu, semua ada norma dan batas-batasnya,” ujar Evita disampaikan secara tertulis, Kamis 15 September 2022.
Evita meyatakan, memaki-maki, menghina, dan menantang Kapolri seperti itu membuat keluarga besar Polri juga prihatin, apalagi dengan merendahkan Polri sebagai institusi. Hal itu juga bisa mendorong pihak menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan kepada Kapolri maupun Polri. Dia lalu mengingatkan Pasal 45 ayat (3) Jo. Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 310 ayat (1) KUHP, Pasal 311 ayat (1) KUHP.
“Kami keluarga Polri benar-benar sangat tersinggung jika orang tua kami dimaki-maki tidak keruan seperti itu. Meski kami juga sepakat 1.000 persen bahwa kritik-kritik yang dialamatkan oleh publik atau siapa pun harus juga didengarkan dan diperbaiki jika memang kritik itu ada kandungan kebenarannya. Ayolah kalau kita memang mencintai Polri jangan begitu,” tandasnya.
Polri, menurut Evita, menjalankan fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Upaya merusak Polri dapat dikatakan sebagai upaya untuk tidak terwujudnya kondisi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Polri, lebih lanjut Evita mengungkap, berbenah diri menyusul kasus yang melanda secara internal dari kasus pembunuhan Brigadir Joshua. Keseriusan Kapolri dan jajaran Polri dalam melakukan penindakan terhadap para oknum polisi yang terlibat harus dilihat sebagai kesungguhan dari Polri untuk bersih-bersih dari dalam.
Namun begitu, Evita juga berharap masukan atau kritik yang memang memiliki kebenaran untuk segera ditanggapi oleh Polri. "Sehingga tidak terkesan Polri tidak peduli dengan masukan dari masyarakat. Polri sendiri responsif dan menindaklanjuti masukan tersebut," imbuh dia.
"Sekali lagi, tolong jangan memaki-maki. Kita punya budaya timur yang santun, itu memberikan contoh yang tidak baik,” tutup Evita.