Polemik Islam Nusantara Berkepanjangan, Ini Tanggapan Din Syamsuddin
"Malapetaka bagi umat ini kalau nanti saling mengenyahkan. Berpeganglah pada ajaran Rasulullah: Al-Hanifiyyatul al-Samhah, berpegang teguh pada keyakinan dengan tetap bertenggang rasa dan berlapang dada."
Polemik soal Islam Nusantara menarik banyak pihak. Termasuk di antara dari sejumlah tokoh, seperti Prof Dr Din Syamsuddin MA.
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini mengingatkan agar ulama Sumatera Barat tidak menolak gagasan Islam Nusantara yang dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) yang sempat menimbulkan perdebatan.
Agaknya, Din tak menginginkan adanya polemik berlelbihan di masyarakat.
Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini menulis secara khusus penjelasan tentang pernyataan itu dan bagaimana seharusnya umat Islam membangun etika kerukunan secara internal.
Berikut ngopibareng.id, menghadirkan pernyataan Din Syamsuddin, utusan khusus presiden untuk dialog dan kerjasama antar-agama, secara lengkap:
"Jangan biarkan perbedaan kepentingan politik memecah belah kita, dan jangan kebencian memenuhi hati kita."
Pernyataan saya tentang Islam Nusantara adalah pernyataan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI yang anggota-anggotanya terdiri dari segenap ketua umum ormas-ormas Islam.
Wantim MUI telah menyepakati Etika Ukhuwah Islamiyah, yang antara lain menjelaskan agar sesama umat Islam saling menghargai dan tidak saling menghina. Itulah akhlak Islam yang sejati.
Jadi kalau saudara-saudara NU mengembangkan pikiran Islam Nusantara adalah hak mereka, sama juga dengan Muhammadiyah yang mengembangkan Islam Berkemajuan adalah hak warga Muhammadiyah.
Kelompok umat Islam lain tidak perlu menyikapinya dengan sinis. Kalau tidak setuju, tidak perlu menyatakan secara terbuka, karena hal demikian akan mendorong sesama umat Islam saling menegasi, saling mengenyahkan.
Kalau terhadap pemeluk agama lain berlaku ajaran “lakum dinukum waliyadin“, bagimu agamamu, bagiku agamaku, maka terhadap sesama umat Islam bisa diberlakukan “lakum ra’yukum wali ro’yi“, bagimu pendapatmu dan bagiku pendapatku.
Kita berbeda tapi kita bersaudara. Kalau tidak, umat ini akan saling menghina, dan itulah awal perpecahan umat. Hal ini yang menggejala terakhir ini.
Saya tidak sepakat dengan banyak hal dalam Islam Nusantara, tapi akhlak Islam yang saya amalkan menghalangi saya untuk mencela atau menegasi pendapat sesama umat Islam secara terbuka apalagi dengan nada penuh kebencian
Malapetaka bagi umat ini kalau nanti saling mengenyahkan. Berpeganglah pada ajaran Rasulullah: Al-Hanifiyyatul al-Samhah, berpegang teguh pada keyakinan dengan tetap bertenggang rasa dan berlapang dada.
Oleh karena itu saya mengajak kelompok terdidik, kelompok cerdas, dan kelompok arif bijaksana dari umat Islam harus tampil mengawal ukhuwah Islamiyah.
Jangan biarkan perbedaan kepentingan politik memecah belah kita, dan jangan kebencian memenuhi hati kita.
Saya hanya ingin bertawashi demikian, kalau tidak sependapat tidak apa-apa. Saya berterima kasih terhadap yang sependapat, dan juga berterima kasih terhadap yang sinis, karena itu telah menambah pahala bagi saya.
Salam takzim,
Din Syamsuddin