Manfaatkan Medi, Muktamar 48 Ajang Kangen Warga Muhammadiyah
Era berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah dengan perjalanan abad kedua jauh berbeda. Hal itu sudah diprediksi pendirinya KH Ahmad Dahlan. Lompatan teknologi menjadi bagian penting dalam mengembangkan dakwah terkini, dengan memanfaatkan media digital (Medi), termasuk dalam perhelantan besar.
Muktamar ke-48 Muhammadiyah-‘Aisyiyah menjadi ajang perjumpaan rindu tebal yang dimiliki oleh Warga Muhammadiyah, termasuk segenap anak bangsa yang selama dua tahun lebih dibatasi akibat pandemi Covid-19.
Euforia Warga Muhammadiyah dalam menghadiri Muktamar ke-48 tidak bisa dibendung lagi, sebab muktamar yang rutin digelar 5 tahunan, tapi akibat pandemi ditunda dan menjadi 7 tahunan.
"Kerinduan akan hal kita bertemu, bersilaturahmi diantara kita menjadi sesuatu yang tidak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu dibuktikan dalam syiar muktamar,” tutur Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad.
Hak Bergembira Warga Persyarikatan
Menyambut Muktamar ke-48 merupakan hak bergembira bagi semua, tanpa terkecuali. Gelaran Muktamar ke-48, kata Dadang, bukan hanya ajang pertemuan dari rindu tebal Warga Persyarikatan Muhammadiyah, tetapi sekaligus sebagai ajang pengingat dalam urusan-urusan keagamaan.
Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad di acara Tabligh Akbar “Menyongsong Muktamar ke-48 Muhammadiyah-‘Aisyiyah”, Sabtu 8 Oktober 2022 di Edutorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Guru Besar Sosiologi ini mengajak kepada seluruh Warga Muhammadiyah untuk memanfaatkan media digital dalam aktivitas dakwahnya.
Menurutnya, Muhammadiyah yang sekarang dan akan datang tidaklah sama. Maka diperlukan cara pendekatan-pendekatan yang berbeda untuk melanjutkan eksistensi Muhammadiyah.
Pada acara Tabligh Akbar yang menghadirkan Ustadz Adi Hidayat (UAH) ini, Dadang meminta supaya meneladani metode dakwah yang dilakukan oleh UAH di media digital. Metode dakwah ini, kata Dadang, kompatibel dengan perkembangan zaman. Dakwah tidak lagi dimaknai secara sempit, serta radius jangkauan dakwah bakal lebih luas jika menggunakan media digital.
“Ini suatu yang patut kita contoh dalam dakwah, karena Muhammadiyah di abad kedua besok itu berbeda dengan yang lalu. Kiai Ahmad Dahlan pernah berkata Muhammadiyah saat ini berbeda dengan yang akan datang,” ucapnya.
Kata-kata KH. Ahmad Dahlan tersebut merupakan sinyal yang harus diaktualisasikan. Sebab, abad kedua Muhammadiyah itu berbeda dengan yang sebelumnya. Pertemuan-pertemuan fisik akan berkurang berganti basis online. Dia berharap kader mubaligh Muhammadiyah untuk bergerak di medan itu.
“Sehingga audiensnya bukan hanya tidak hanya 8.000, tetapi audiensnya bisa mencapai jutaan," tutur Dadang.
Dadang menutup sambutannya dengan mengapresiasi kegiatan Tabligh Akbar yang diadakan untuk menyambut gelaran Muktamar ke-48 Muhammadiyah-‘Aisyiyah pada 18-20 November mendatang.
Advertisement