Kue Lebaran Anti Corona Beneran Dijual di Probolinggo
Tidak mudah bagi usaha kecil menengah (UKM) bertahan di saat pandemi virus Corona (Covid-19). Salah satu yang mencoba bertahan di tengah merebaknya Covid-19, adalah Ninuk Sri Lestari, pengusaha kue dan roti di Kota Probolinggo.
Awalnya Tari, panggilan akrab Ninuk Sri Lestari, selama bertahun-tahun termasuk pengusaha kue rumahan (home industry). Baru sekitar sebulan ini ia mencoba mengembangkan usaha dengan menempati sebuah rumah-toko (ruko) di Jalan Brigjen Katamso, Kota Probolinggo.
Bangunan berlantai dua itu dipilah, lantai atas untuk dapur dan lantai bawah untuk ruang etalase dan penjualan. “Tetapi baru saja saya buka outlet kue dan roti, langsung dihantam badai Covid-19. Mungkin ini ujian terbesar bagi saya jika ingin maju,” ujar pemilik Tarie Cake and Bakery itu.
Tari mengaku pusing memikirkan target penjualannya yang jauh dari tercapai. “Target saya setiap hari omzet penjualan bisa Rp6 juta, kenyataannya bertahan sejuta sudah bagus,” katanya.
Ia berprinsip, setiap ada usaha pasti ada jalan. Ia berusaha “berdamai” dengan keadaan di tengah merosotnya daya beli masyarakat.
Belakangan menjelang Hari Raya (Idul Fitri) yang masih dibayang-bayangi merebaknya Covid-19, Tari punya ide membuat kue anti Corona. Bentuknya cukup unik, kue berbentuk wajah (bulat) ada dua mata, sementara hidung dan mulutnya bermasker.
Karena sepenuhnya dibuat dengan tangan (hand made), tingkat keruwetan pembuatan kue anti Corona lumayan memakan waktu. Untuk membuat sebuah kue bulat pipih dengan diameter sekitrar 10 Cm diperlukan waktu sekitar 5 menit.
“Semua bahan food grade alias aman dikonsumsi dari segi kesehatan. ‘Masker putih’ itu dari adonan icing sugar,” kata Tari. Setelah “diukir”, kue-kue Corona itu dioven.
Disinggung mengapa membuat kue anti Corona, perempuan single mother itu beralasan, sekaligus mengingatkan masyarakat. “Saya ingin ikut sosialiasi pentingnya bermasker saat keluar rumah bagi masyarakat di tengah pandemi Corona,” katanya.
Selain kue anti Corona, Tari mengaku, juga akan membuat kue Corona. “Kalau kue anti Corona sudah saya buat dan jual. Sementara kue Corona masih persiapan, bentuknya yang mirip buah rambutan atau biji kedondong relatif sulit dibuat,” katanya.
Kua anti Corona sebungkus plastik dijual dengan Rp60.000. Selain dijual di etalase, kue tersebut ditawarkan melalui media online. “Alhamdulillah, sudah ada sejumlah pesanan dari luar kota seperti dari Pasuruan dan Surabaya,” kata penggemar lagu dan gending Jawa itu.
Beberapa calon pembeli tampak penasaran menyaksikan kue anti Corona di etalase. “Ini hiasan atau kue yang bisa dimakan?”
Seorang pelayan berjilbab kemudian menjelaskan, itu memang benar-benar kue. “Silakan ini tester kue anti Corona bisa dicoba kalau tidak puasa, atau nanti saat buka puasa,” katanya.
Selain membuat dan memasarkan kue relatif mahal, Tari juga membuat kue-kue murah meriah. “Saya tawarkan juga kue dan roti murah meriah, Rp3.000. Cocok untuk berbuka puasa bersama atau mau disumbangkan ke mushola atau masjid di bulan puasa,” ujarnya.
Kue lebaran dengan menggunakan masker ini sebelumnya sudah viral menjadi meme di media sosial. Selain kue lebaran dengan menggunakan masker, viral juga perempuan cantik yang menggunakan masker mewah.
Asumsinya karena tahun ini tak ada mudik lebaran, maka baju baru yang biasanya dipakai saat halal bihalal menjadi tak penting lagi. Karena halal bi halal dilakukan dengan menggunakan teleconference maka yang penting adalah masker mewah.