Jejak Pejuang HAM & Pendiri Ponpes Waria Pertama di Indonesia
Pemimpin Pesantren Waria Al-Fatah Kotagede, Yogyakarta, Shinta Ratri meninggal karena serangan jantung pada Rabu pagi, 1 Februari 2023 di Rumah Sakit Umum Daerah Wirosaban, Kota Yogyakarta.
Seluruh kolega Shinta Ratri mengabarkan rasa duka itu, satu di antaranya Rully Mallay, 60 tahun, Koordinator Waria Crisis Center.
Jenazah Shinta disemayamkan di rumah duka Jagalan dan dimakamkan hari ini pukul 14.00. "Bu Shinta dimakamkan di pemakaman Semoyan, Jagalan, Banguntapan," kata Rully.
Kata Rully Malay, Shinta Ratri sudah mengeluhkan penyakitnya selama empat hari belakangan. "Nggih leres (iya benar). Sudah empat hari yang lalu dia sakit. Tiba-tiba mengeluh asam lambung," katanya.
Lebih lanjut, Rully mengatakan Shinta Ratri sempat dibawa ke RS Hidayatullah Kota Yogyakarta. Namun, oleh dokter, almarhumah diperbolehkan pulang karena kondisinya tidak parah.
"Habis itu dirawat di rumah dua hari, terus malamnya mengeluh. Saya datang ke sana, saya tanya gimana kondisinya, dia posisinya sudah segar gitu, sudah dandan katanya gak papa," ungkapnya.
Profil Sinta Ratri
Shinta Ratri lahir dengan nama Tri Santoso Nugroho. Shinta Ratri lahir pada 1962. Ia adalah anak ketiga dari delapan bersaudara.
Shinta Ratri menempuh pendidikan di SMPN 9 dan SMAN 5 Yogyakarta. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM).
Selama ini, Shinta Ratri dikenal sebagai pejuang hak bagi para waria. Keaktifannya dalam berorganisasi mulai dari tahun 80-an saat ia masih berkuliah.
Kala itu, ia mendirikan organisasi Ikatan Waria Yogyakarta (IWAYO) pada 1982. Organisasi ini berdiri karena Shinta Ratri dan kawannya, Mbak Riki, merasa kegiatan waria di Yogyakarta hanya sebatas nongkrong.
Saat mendirikan IWAYO, Shinta Ratri menjabat sebagai Bendahara. Sementara untuk ketua, dipilih dari waria senior yang disegani kawan-kawan lainnya.
Dirikan Pesantren waria pertama di Indonesia
Pesantren waria berdiri di tengah perkampungan Kotagede. Di sekitarnya terdapat rumah-rumah tradisional berarsitektur Jawa. Untuk menuju ke sana, orang harus melalui gang sempit.
Pesantren berdiri di kawasan Kotagede sejak tahun 2014. Sebelumnya Ponpes Waria berdiri di Notoyudan, menempati rumah kontrakan Maryani pada 2008. Maryani menjadi ketuanya.
Berdirinya pesantren waria ini bermula dari rutinitas Maryani mengikuti pengajian Kiai Haji Hamrolie Harun, seorang ustad pengasuh pengajian Al Fatah di kawasan Pathuk, Yogyakarta. K.H. Hamrolie juga yang memberi nama Pondok Pesantren Al-Fattah. Nama itu berasal dari pengajian mujahadah yang diselenggarakan K.H. Hamrolie.
Ia menjadi pembina pondok itu. Pada 2013, K.H. Hamrolie meninggal. Setahun kemudian, Maryani meninggal. Ponpes pindah ke kawasan Kotagede, Yogyakarta di rumah Shinta Ratri, ketua pondok pesantren yang sekarang pada 2014.
Berdirinya Pondok Pesantren Waria Al Fatah Yogyakarta karena melihat kawan-kawannya yang waria, mengalami ketidaknyamanan saat beribadah di ruang publik.
Berangkat dari hal itu, Shinta Ratri pun membuat pondok pesantren untuk waria. Tujuannya, agar kawan-kawan waria memiliki tempat yang aman dan nyaman untuk beribadah.
Tak hanya kawan-kawan Muslim, Shinta Ratri juga menyediakan tempat ibadah dan membuat persekutuan bagi kawan-kawan waria non-muslim. Meski demikian, dalam perjalanannya, Ponpes Waria Al Fatah sempat ditutup pada 2016 silam karena mendapat ancaman dari kelompok konservatif.
Namun, ponpes kembali dibuka setelah mendapat dukungan dari pemuka agama, aktivis HAM, serta pihak berwenang setempat. Pada 2019 silam, Shinta Ratri mendapatkan penghargaan dari Front Line Defenders atau organisasi internasional untuk perlindungan pembela Hak Asasi Manusia (HAM) di Irlandia.
Penghargaan Shinta Ratri
Shinta Ratri selama ini dikenal sebagai pejuang hak bagi para kawan-kawan waria. Menurut aktivis waria Yogyakarta, Rully Malay, Shinta Ratri adalah sosok pemimpin yang berhasil membawa kawan-kawan waria menuju perubahan. "Beliau salah satu tokoh pemikir transpuan yang hebat terutama dalam melanjutkan dan membawa ponpes waria," ujar Rully.
Rully menambahkan, atas dedikasinya sebagai pejuang hak waria, Shinta Ratri pernah mendapatkan penghargaan dari Inggris dan Spanyol. "Dia kan juga pernah menerima penghargaan independent sama penghargaan kedua itu atas keberagaman. Pertama itu dari Inggris dan kedua itu di Spanyol," pungkasnya.
Dia merupakan penerima penghargaan dari Front Line Defenders, organisasi internasional untuk perlindungan pembela HAM berbasis di Irlandia.
Dia satu-satunya yang terpilih untuk mendapatkan penghargaan tersebut dari kawasan Asia Pasifik. Dia bersanding dengan empat orang penerima penghargaan dari Republik Dominika, Tunisia, Rusia dan Malawi.
Penghargaan itu khusus diberikan untuk pembela HAM berisiko tinggi yang mengalami kekerasan.
Front Line Defenders menetapkan Shinta karena dia gigih mempertahankan pondok pesantren dan komunitasnya setelah belasan anggota Front Jihad Islam menggeruduk pesantren pada 19 Februari 2016.
Shinta terus berdiri mempertahankan hak komunitas waria agar tetap bisa menjalankan ibadah. Shinta bisa saja menutup pesantren tersebut di tengah jalan. Tapi, dia tetap menjalankan kegiatan belajar agama di pesantren.
Santri pesantren waria hidup berdampingan dengan tetangga kanan kiri. Mereka menjaga keberadaan pesantren tersebut.
Penghargaan diberikan kepada pejuang LGBT yang mengalami beragam serangan dan diskriminasi. Setiap tahun penghargaan pembela HAM yang mereka berikan berbeda-beda, bergantung pada situasi tahun itu.
Tidak mudah untuk para pembela hak-hak LGBT hidup di negara-negara yang belum bebas diskriminasi. Di negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, LGBT mendapatkan penolakan yang keras.
Organisasi itu secara khusus mengundang Shinta datang ke Dublin, Irlandia untuk menerima penghargaan bersama empat pembela HAM lainnya pada 2 Oktober 2019.