Bikin Trenyuh! Kisah Nabi Muhammad dan Yahudi Buta
Hidup Indah Bersama Nabi
Memuliakan al-Musthafa,
menghidupkan hatiku
Segala dosa dan salah diampuni
Aku berharap hidup bahagia bersamanya
Aku berharap bertemu dengannya
Hingga aku tak lagi berduka karena dosa
Dialah sang paripurna
Dialah puncak segala keindahan
Dialah sang kekasih
Menyebut namanya,
menyembuhkan segala duka lara
manakala ia menyapaku
Memuliakan dia
makin menambah rinduku kepadanya
Al-Musthafa bagai permata
dan mawar mewangi.
Sebagai Muslim yang beriman, pastilah kita selalu terdorong untuk ittiba (meneladani) Nabi Saw dalam segala aspek kehidupan dengan sepenuh bahagia dan sukacita. Tak terkecuali dalam hal memperingati hari-hari besar Islam. Setiap tanggal 12 Rabiul Awwal, misalnya, kita rutin merayakan Maulid Nabi Saw. Kita juga rutin memperingati Isra Miraj, Idul Fitri, Idul Adha, Asyura, dan sejumlah hari besar Islam lainnya.
Peringatan hari-hari besar Islam tentu harus lebih dari sekadar seremonial dan rutinitas belaka. Kita harus mampu memetik hikmah dari serangkaian perayaan itu sebagai bekal kehidupan kita yang lebih baik. Bagaimana caranya? Yaitu, dengan memahami latar belakang sejarah dari hari-hari besar Islam itu.
KISAH NABI DAN YAHUDI BUTA
Ini sebagian yang aku sampaikan dalam forum diskusi "Fiqih Didabilitas", tadi pagi di Yogyakarta. Sebagai contoh.
في سوق المدينة المنورة كان هناك فقير يهودي أعمى، و كان ينذر كل من مر بقربه و يقول لهم أن محمداً كذاب و ساحر و يسبه و يشتمه. و مع هذا كان الرسول صلى الله عليه و سلم يذهب كل صباح و يطعم هذا الرجل الفقير دون أن يتكلم بشيء أو يخبره من هو. ظل يطعمه كل يوم حتى توفي الرسول صلى الله عليه و سلم، ثم إنقطع الأكل عن هذا الرجل. و في يوم من الأيام، سأل أبو بكر عائشة إذا ما كان هناك أي سنة من سنن الرسول التي لم يفعلها أبو بكر بعد، فقالت انك تتبع السنة في كل شيء إلا شيء واحد، و أخبرته ما كان يفعل الرسول كل صباح و يطعم اليهودي الأعمى. فأخذ أبو بكر طعاما و ذهب يطعمه، لكن اليهودي عرف أنه ليس من كان يطعمه سابقا، فسأله من هو فأخبره أن الذي يطعمه كان الرسول، فبكى اليهودي و ندم على اساءته للرسول مع أنه هو الذي كان يطعمه، و بكى أبو بكر، ثم أسلم اليهودي
Seorang Yahudi buta dan miskin setiap hari duduk di sebuah sudut kota Madinah. Setiap mendengar orang lewat di hadapannya, dia mencaci maki Nabi dengan suaranya yang keras: “hai, awas kalian, jangan dekati Muhammad. Dia orang gila, penyihir dan pembohong besar. Bila kalian dekati dia,kalian pasti terpikat. Kata-katanya amat manis. Meski Nabi tahu dan mendengar sendiri pengemis buta Yahudi itu membencinya setengah mati, tetapi beliau tiap pagi mendatanginya sambil membawa makanan untuknya. Tanpa bicara apa-apa atau mengenalkan dirinya Nabi menyuapinya dengan amat sabar dan penuh kasih. Nabi kemudian wafat. Si Yahudi tertawa terbahak-bahak, bukan kepalang senangnya. Tetapi keesokan harinya dia merasa sepi dan kelaparan. Dia menunggu orang yang biasa datang memberinya makan sampai sore, tetapi tak juga kunjung datang.
Beberapa hari berikutnya, Abu Bakar datang menemui anaknya: Aisyah. Ia menanyakan apakah ada kebiasaan Nabi yang belum diikutinya. Isteri Nabi itu menjawab : “Ayah sudah melakukan segalanya, kecuali satu hal. Lalu Aisyah menceritakan kebiasaan Nabi memberi makan Yahudi buta tadi. Mendengar penuturan anaknya itu Abu Bakar segera menemui dan membawa makan untuknya. Si Yahudi merasakan pegangan tangannya, tetapi tangan itu bukan tangan orang yang dulu. Ia menepis tangan itu sambil mencari-cari dan meraba-raba tangan yang lembut dulu itu. Abu Bakar mengenalkan dirinya dan memberitahukan bahwa “tangan lembut yang dulu tiap hari menyuapimu dengan penuh kasih itu adalah sahabatku: Muhammad, Rasulullah, dan dia sudah wafat beberapa hari lalu”. ketika itu pengemis Yahudi itu menjerit dengan suara yang amat memilukan hati. Air mata bercucuran membasahi pipinya. Dia amat menyesal dan mengutuki dirinya telah mencaci, membenci dan menuduh hal-hal yang tak pernah dilakukan Muhammad. “Oh, Muhammad, engkau orang yang mulia, orang yang berhati mulia”.
Hati Abu Bakar mengharu-biru dan tersedu-sedan, mengenang kekasihnya yang telah pergi tak tak akan kembali. Yahudi itu kemudian masuk Islam.
Yogya, 11.02.25
(KH Husein Muhammad)
Advertisement