Agama untuk Politik Praktis, Ini Warning dari Pakar Sufi
Dalam segala sendi kehidupan, nilai-nilai agama penting menjiwai agar perilaku baik dan positif tetap terjaga, termasuk dalam kehidupan politik. Namun, akan menjadi petaka jika menggunakan agama untuk kepentingan meraih kekuasaan politik.
Dalam hal ini, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, KH M. Luqman Hakim menegaskan, semua wajib menjaga agama. Tetapi ketika gerakan keagamaan berujung politik bahkan dengan alasan menjaga agama, justru gerakan itu menjadi duniawi sekali.
“Nafas keagamaan lama-lama berbau busuk di tong sampah sejarah, beraduk antara kesucian dan kotoran nafsu,” ungkap pakar sufi ini.
Kiai Luqman, menanggapi gerakan-gerakan yang menggunakan agama sebagai alat mencapai kekuasaan politik praktis.
“Apalagi jika memanfaatkan gerakan agama untuk dijadikan tawar-menawar kekuasaan, pihak yang terlibat harus bertanggung jawab atas jual beli agama dengan dunia,” kata
Sebaliknya, menurut Kiai Luqman, gerakan politik yang tidak memiliki visi menjaga agama dan penataan dunia, perjuangan hanya akan bertegak papan nama.
“Apalagi jika memanfaatkan gerakan agama untuk dijadikan tawar-menawar kekuasaan, pihak yang terlibat harus bertanggung jawab atas jual beli agama dengan dunia,” tegas doktor lulusan Universitas Malaya Kuala Lumpur, Malaysia ini.
Menurutnya, sumber konflik antara agama dan kekuasaan, selalu berinduk dari kelompok dengan kejernihan beragama yang cerdas (termasuk dalam memahami hakikat agama dan politik), melawan kebodohan beragama yang diseret oleh imajinasi politik atas nama agama. (adi)